Posts

Showing posts from March, 2021

Rendang ooh Rendang

Brukk!! "Astaga, Gareng! Kamu nggak apa-apa?" tanya Petruk Gareng hanya tersenyum meskipun raut wajahnya menunjukkan bahwa ia sedikit terkejut. "Maaf, teman-teman. Aku ingin mengambil sendokku yang terjatuh tapi malah akunya yang ikut jatuh." Bagong kemudian membantu Gareng duduk kembali di bangkunya. "Hati-hati, ya Gareng. Kamu kan harus menjaga badanmu dengan baik." "Iya, terima kasih ya, Bagong. Yuk, kita kembali makan," kata Gareng Huff, hampir saja terjadi masalah. Seperti yang teman-teman tau, Gareng memang memiliki keterbatasan fisik di bagian tangannya, maka dari itu ia selalu mengalami kesulitan jika ingin mengambil atau memegang sesuatu. Aduh, gara-gara terlalu asyik menyantap rendang, kami jadi melupakan kawan kami. Teman-teman, jangan seperti Petruk, Semar, dan Bagong barusan, ya. Karena terlalu terlena terhadap sesuatu, kami jadi melupakan apa yang seharusnya kami jaga. "Lain kali kalau kesulitan, ja...

Ke Padang, Makan Rendang!

Image
Sugeng Siang, teman Punokawan! Siang ini langit Sumatera Barat cerah sekali! Kata Petruk, sih, ini waktu yang tepat untuk mengunjungi Rumah Makan Padang dan makan rendang hahaha. Teman Punokawan pasti tau dan pernah makan rendang, bukan? Tapi, apakah teman-teman tau tentang makna filosofis dibalik masakan rendang? Biar Petruk jelaskan sedikit ya. Rendang memiliki posisi terhormat dalam budaya masyarakat Minangkabau. Rendang memiliki filosofi tersendiri bagi masyarakat Minang, Sumatra Barat, yaitu musyawarah dan mufakat, yang berangkat dari empat bahan pokok yang melambangkan keutuhan masyarakat Minang. Secara simbolik, dagiang (daging sapi) melambangkan " niniak mamak " (para pemimpin suku adat), karambia (kelapa) melambangkan " cadiak pandai " (kaum Intelektual), lado (cabai) melambangkan " alim ilama " (alim ulama) yang tegas untuk mengajarkan syariat agama, dan pemasak (bumbu) melambangkan keseluruhan masyarakat Minangkabau. Dalam tradisi ...